pagi muram kelabu,
biasanya mentari hangat menyapaku
tapi tak kutemukan hangatnya hari ini
seperti mau lebur rasanya,

kesakitan itu datang lagi
mencabik cabik luka ternganga yang kini semakin luas
tetes air bening itu akhirnya jatuh..
satu.. satu.. satu.. lalu menjadi seribu
tak jua bisa kutahan arusnya,
aku terluluh karena perih..

kapan ku bisa lari dari pasungnya
terlalu berat bola beban yang terpatri
semakin lama semakin erat tertanam

aku lelah,
aku mau teriak,
aku mau hilang saja…